Perjalanan Pendaftaran Indonesia Mengajar



Tulisan ini merupakan rangkaian perjalanan saya mengikuti  pendaftaran Indonesia Mengajar hingga terpilih menjadi Pengajar Muda angkatan XII. Saya tulis sebagai bentuk syukur-terima kasih karena dahulu saya pun mendapat banyak manfaat dari membaca pengalaman orang yang tidak saya kenal di blog mereka. Semoga Bermanfaat! 

Seleksi Awal (Formulir dan Esai)
Pendaftar Indonesia Mengajar di angkatan saya berjumlah 14.816 orang. Dari jumlah ini, diambil 200 an pendaftar yang lolos seleksi tahap awal. Seleksi ini berupa pengisian formulir dan menjawab pertanyaan esai. Bagaimana memenangkan 'penilai' dari banyaknya pendaftar?

Saya menyiapkan esai pendaftaran Indonesia Mengajar sebelum pendaftarannya dibuka. Pembukaan pendaftaran pada bulan November-Desember 2015, namun esai sudah saya buat sejak Agustus 2015 dan saya konsultasikan mulai Oktober 2015. Pertanyaannya saya ambil dari pengalaman orang-orang sebelumnya (yang saya baca di blog-blog), lalu saya membuat esai sesuai pertanyaan tersebut. Kelemahan dari cara saya ini adalah ada beberapa soal yang agak berbeda dengan ketika saya mendaftar di website resmi. Jadi, saya melakukan cukup banyak perubahan. Yang awalnya 600 kata (karena pengalaman yang saya baca waktu itu senior angkatan awal dengan seleksi 600 kata), sedangkan ketika saya mendaftara hanya 250 kata per soal. Jadi, saya harus memangkas semua jawaban agar sesuai dengan persyaratan. Kelebihannya, tulisan bisa lebih 'matang' baik dari segi bahasa maupun dari segi konten. Saya bisa lebih banyak merenungkan dan memikirkan ulang setiap jawaban. Saya juga tidak langsung menulis di web pendaftaran, melainkan di ms word agar mudah diubah.

Selain mempersiapkan jauh-jauh hari, saya juga meminta kawan-kawan dan senior untuk membaca esai saya. Pada tahap awal, saya meminta mbak-mbak di tempat saya mondok untuk memberikan tanggapan atas esai saya. Saya hanya menanyakan bagaimana pendapat mereka setelah membaca tulisan. Fokusnya lebih ke perasaan mereka, ada yang menjawab cukup menyentuh, menyentuh banget, biasa saja, dan sebagainya. Setelah dibaca teman-teman, saya meminta bantuan senior IM yang saya kenal untuk memberi masukan. Ada Pengajar Muda (PM) III dan VI yang saya minta pendapatnya. Lalu, saya juga minta tolong senior yang jurusan sastra untuk memberikan masukan terkait pilihan kata yang saya gunakan.

Membuat esai jauh-jauh hari membuat saya bisa meminta pendapat dan masukan dari banyak pihak untuk perbaikan tulisan. Saya juga tidak memberikan target waktu kepada orang yang saya mintai tolong untuk memberi penilaian. Ini saya lakukan karena biasanya saya juga agak lelah dengan orang yang meminta tolong lalu memberikan target cepat-cepat. Padahal kan kesibukan orang masih banyak. Dari pengalaman itulah ketika minta tolong lalu ditanya kapan minta selesai, saya jawab "sebisa kakak/ mbak saja, sekiranya tidak sibuk. Pendaftaran belum dibuka kak/ mbak, jadi bisa santai." Pas banget, kakak dan mbaknya sedang sibuk ujian dan lab (mereka sama2 sambil S2 di luar). Jadi, ya..bersyukur mereka masih bersedia me-review tulisan saya. Kalau minta tolongnya tidak terburu-buru kan sama-sama enak..

Terakhir dan paling penting mengenai konten esai. Jawablah secara jujur apa-apa yang telah kita lakukan selama ini. Jadilah diri sendiri. Setiap dari kita memiliki bidang yang sedang dan telah ditekuni. Sampaikan saja sesuai pertanyaan yang tertera pada lembar isian.

Selanjutanya, pertanyaan yang mungkin muncul: Mengapa saya melakukan persiapan tersebut? Bukannya ada juga yang lolos dengan sekali buka web pendaftaran, tulis esai, lolos. Ya, bisa jadi ada yang seperti itu karena setiap orang memang tidak sama. Namun, bagi saya, ketika telah berniat mengikuti sesuatu, maka saya harus totalitas, maksimal mempersiapkannya. Kalau tekad sudah ditetapkan, keinginan sudah bulat, usaha maksimal, lalu biarkan Allah memberikan jawaban terbaik.


Direct Assessment (DA)
Salah satu hal yang perlu dilakukan usai mendaftar Indonesia Mengajar dan dinyatakan lolos ialah rajin-rajinlah mengecek email. Akan banyak pemberitahuan perihal ragam tes yang akan kita lalui beserta tugas-tugas yang menyertainya. Ada psikotes online, wawancara, FGD, psikotes offline, dan micro teaching.

Ketika itu, psycho test online dilakukan sebelum masuk tahapan DA. Untuk tahapan ini, memerlukan akses internet yang cukup memadai. Ketika itu, saya sengaja membeli kartu baru agar internet lebih cepat. Isinya mengenai kepribadian kita, jadi jawab saja sesuai diri dengan santai, tidak perlu normatif juga.

Selanjutnya, tahapan wawancara. Ada beberapa hal yang saya siapkan. Pertama, membaca ulang semua esai yang sudah ditulis. Untuk hal ini, pastinya kita tidak akan kesulitan karena semua esai memang kita alami dan kita tulis sendiri. Dulu, saya mencoba menyampaikan secara verbal apa yang sudah saya tulis. Tujuannya ya agar alurnya dan pilihan katanya lebih tertata saja. Kedua, penampilan. Saya menyesuaikan pakaian yang digunakan dengan tujuan pelaksaan. Ketika itu, saya menggunakan rok hitam polos, baju batik + blazer dan kerudung. Saya memilih warna pakaian yang tidak terlalu mencolok dan bahan yang nyaman digunakan. Pertimbangan saya saat itu, tes akan berlangsung seharian penuh dan memerlukan pakaian yang nyaman digunakan untuk shalat, tapi tetap enak dipandang. Ketiga,mental. Saya berulang  jawab dengan tenang. Apapun yang ditanyakan nantinya, jawab meyakinkan dan tenang. Ikuti ritme pewawancara.

Tahapan selanjutnya termasuk jenis tes yang saya suka, yaitu FGD (forum grup discussion). Dan, orang yang menjadi assesor saya saat itu keren banget (baru saya kenal kemudian). Namanya Bu Weilin Han (Beliau menjadi pembicara di salah satu sesi pelatihan IM bidang pembelajaran sains kreatif). Di FGD ini, kita akan dibagi ke dalam kelompok kecil, 5-6 orang. Lalu, akan ada peraturan yang dibacakan, intinya kita diminta untuk berdiskusi untuk menentukan solusi atas permasalahan yang diberikan. Solusi ini tidak boleh diambil secara voting, namun harus hasil musyawarah bersama. Ketika itu, saya menawarkan diri sebagai moderator (entah kenapa, refleks). Saya pikir memang perlu ada moderator dalam sebuah diskusi. Namun di awal saya sampaikan, “posisi moderator disini hanya sebagai pengatur jalannya diskusi, tetapi punya hak yang sama untuk menyampaikan pendapat. Jadi, posisi kita sama”. Kurang lebih demikian. Nah, sepanjang perjalanan diskusi, saya mengakomodir semua peserta untuk menyampaikan pendapatnya. Di akhir, baru saya menyampaikan pendapat saya sendiri. Pada kesempatan ini, FGD berlangsung lebih cepat dari waktu yang diberikan. Saya pun bisa mengarahkan peserta lainnya untuk sepakat relatif cepat (hehehe, ini saya ketahui selanjutnya disebut dengan GC atau gaining commitment, salah satu dimensi kepemimpian yang berkembang pada diri saya). Saran saya pada fase tes ini adalah jadilah diri sendiri dengan menyampaikan argumen sesuai dengan pemikiran kita. Sampaikan saja apa yang ada di kepala dengan cara yang baik. Tidak ada benar-salah dalam hal ini, tapi memperlihatkan sejauh mana cara kita menyampaikan pendapat, merespon pendapat orang lain dan mempertahankan kestabilan emosi dalam berkomunikasi.

Tes terakhir di DA ialah micro teaching. Persiapan saya pada tes ini dengan membuat media pembelajaran sesuai dengan tema. Lalu, praktik mengajar kepada teman2 di pondok dan meminta masukan mereka. Ketika praktik di DA, pastikan tetap tenang atas apa yang terjadi di kelas kita. Saat itu, ada orang tua yang tiba2 masuk dan marah2 meminta anaknya pulang dari sekolah. Bagaimana sebagai guru kita mengkondisikan kelas dengan situasi seperti itu? Tenang, tetap berpikir jernih. Kebetulan saya bukan tipe yang emosional negatif ketika menghadapi hal yang tidak diinginkan, jadi santai saja. Saya tanya baik-baik maksud kedatangan orang tua tersebut untuk apa, inginnya bagaimana dan pertanyaan2 reflektif lainnya. Intinya, komunikasi positif dengan orang tua tersebut. Bagaimana dengan anak-anak lainnya? Pastikan kita bisa mengkondisikan mereka. Positif selalu.

Rangkaian tes ini berlangsung seharian, jadi pastikan tubuh kita tetap fit ya!


MCU (Medical Check Up)
MCU bertujuan mengetahuhi kondisi fisik kita secara menyeluruh. Ketika bertugas di lapangan nantinya, banyak hal terjadi. Mungkin kita tidak selalu fit setahun, tapi setidaknya tidak ada penyakit berat yang menyulitkan kita beraktifitas selama di penempatan. Saran saya bagi yang perempuan, sebaiknya tidak menggunakan jubah/gamis ketika tes ini. Alasannya ya karena akan ada pemeriksaan terbuka badan. Bisa gantian bagian atas dan bawah tubuh. Nanti akan ada keterangan email dari IM mengenai apa2 saja yang perlu dilakukan sebelum MCU. Misalnya, tidak makan berat sekian jam sebelum tes, dan sebagainya.


Pengumuman Diterima!
Setelah dinyatakan lolos, maka bersiap mengikuti pelatihan di camp pelatihan. Pada masa ini, status kita masih 'calon' dan belum fix berangkat. Akan ada rangkaian kegiatan yang perlu ditempuh dan ditaklukkan sampai akhirnya resmi dikirimkan ke daerah ( Sementara ini dulu ya. InsyaAllah akan ada tulisan sambungannya.

Niatkan rangkaian perjalanan pendaftara IM ini sebagai bentuk ikhtiar menjemput takdir terbaik yang dititipkan oleh Allah kepada kita.



Epilog: Akhirnya, saya ucapkan selamat berjuang dan menikmati perjuangan, kawan!

Dulu, seorang senior pernah menyampaikan pertanyaan retoris kepada kami. 
"Kalian tau apa yang membuat kalian diterima sebagai pengajar muda dari banyaknya pendaftar?"
kami diam.
"Karena hasil kocokan!" ๐Ÿ˜

Salam hangat,
Asri
Pengajar Muda XII
Hulu Sungai Selatan

Komentar

  1. what an amazing journey! hanya orang pilihan yang bisa terpilih mbak, walaupun kocokan #ehh ... hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul..betul..betul mb ๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†
      keberuntungan yang membahagiakan
      hihihi

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer